Pangan yang Alami dan Fungsional
Tren
pangan sekarang telah menjadi suatu
lifestyle atau gaya hidup masyarakat umum. Mengikuti tren bukan berarti
mengikuti arus jaman jenis makanan yang popular pada masa itu. Namun, tren yang
timbul justru berasal dari kebutuhan masyarakat sekarang yang notabene rata-
rata berpendidikan tinggi yang mengerti akan pentingnya kesehatan. Berikut ada
dua tren pangan yang sedang berkembang pada masa kini yaitu pangan tanpa diolah
dan pangan fungsional.
Pangan
Tanpa Diolah
Back to nature, itulah sebutan
tren yang menjadi branding atau
slogan beberapa produk sekarang. Begitu pula dengan pangan, kembali ke alami
atau natural menjadi suatu yang istimewa sekarang. Tren pangan tanpa diolah
atau raw food consumtion menjadi
suatu hal yang langka namun menjadi suatu kebutuhan. Raw food consumtion timbul atas dasar rindunya masyarakat kepada
bahan pangan mentah yang natural. Mereka memiliki anggapan apabila dimasak atau
dilakukan suatu proses malah menjadi suatu hal yang mengurangi nilai gizi. Masyarakat
lebih mementingkan unsur kandungan gizi alami pada pangan daripada mengolah dan
menambahnya dengan zat tertentu.
Atas
dasar hal itu, masyarakat seperti ketakutan akan bahaya pengolahan dan bahan
tambahan makanan yang kebanyakan industri makanan lakukan. Mereka mencari suatu
pangan yang more healthy, more organic,
more natural. Sebagai contoh, pada
makanan tradisional kita mengenal karedok, trancam, gudangan (daerah jawa), lotis,
rujak buah, dan sebagainya. Makanan- makanan tersebut merupakan makanan
tradisional yang disajikan dengan mentah dan hanya menggunakan proses pencucian
saja. Apabila mengambil contoh suatu produk industri, kita mengenal manisan
buah, asinan buah, oats, dan sereal gandum utuh.
Makanan
yang tak diolah sebenarnya tidak selalu baik bagi kesehatan karena dimungkinkan
didalamnya masih mengandung senyawa kimia seperti pestisida dan mikroorganisme
yang tercemar didalamnya. Meskipun pada industri telah memiliki syarat penerapan HACCP pada setiap proses pengolahannya dimana
setiap proses produk pangan telah diketahui estimasi kondisi bahaya secara
kimia, fisika, dan biologisnya. Sehingga, sebenarnya masyarakat tidak perlu
terlalu khawatir akan bahaya pengolahan pangan pada industri. Namun, masih ada
masyarakat umum yang lebih mempercayai bahwa makanan alami itu baik untuk
kesehatan dengan kandungan gizinya yang utuh. Sebaiknya sebagai konsumen yang
baik kita harus tetap selektif dalam memilih suatu produk pangan yang
disesuaikan dengan kebutuhan, baik secara gizi maupun fungsionalnya.
Pangan Fungsional
Sekarang siapa yang tidak tahu akan
pangan fungsional. Pangan fungsional telah menjadi tren paling ‘panas’ di dunia
makanan baik itu pangan local maupun pangan industry berbasis fast moving consumers good (FMCG). Sehingga
bisnis produk makanan telah bergeser ke arah pangan fungsional. Menurut BPOM
RI, pangan fungsional merupakan pangan olahan yang mengandung
satu atau lebih komponen pangan yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi
fisiologis tertentu diluar fungsi dasarnya, yang terbukti tidak membahayakan dan
bermanfaat bagi kesehatan. Dari pernyataan tersebut
sangat jelas bahwa pangan fungsional dalam kandungan gizinya memiliki nilai
lebih dalam arti sebagai ‘obat’ yang berbentuk makanan.
Penyakit gaya hidup kini telah
menjadi momok di masyarakat, masyarakat yang belum sadar akan hal ini wajib
menyadarinya. Salah satu yang paling berbahaya adalah diabetes. Penyakit ini
memiliki beberapa turunan penyakit yang berbahaya seperti jantung koroner.
Untuk itu masyarakat wajib sadar akan pentingya gaya hidup sehat. Masyarakat
yang sadar akan hal ini telah memilih pangan fungsional sebagai diet rendah
kalorinya.
Salah satu contoh makanan fungsional adalah makanan fungsional
berbasis serat pangan. Serat pangan mampu mengontrol asupan berbagai macam zat
gizi yang masuk ke dalam tubuh. Menurut American Association of Cereal Chemist/AACC
(2001) serat pangan merupakan bagian tumbuhan yang dapat dimakan atau
karbohidrat analog, yang tahan pencernaan dan absorpsi di dalam usus halus
manusia dan mengalami fermentasi sebagian atau seluruhnya di dalam usus besar.
Serat pangan meliputi polisakarida, karbohidrat analog, oligosakarida, lignin
dan bahan yang terkait dengan dinding sel tanaman (waxes, cutin, suberin). Bentuk serat pangan yang
digunakan dalam produk pun bermacam- macam mulai dari buah hingga snack.
Serat pangan juga berfungsi sebagai
pencegah kanker kolon karena mampu terfermentasi dalam usus besar. Diet rendah
kalori menggunakan bahan pangan yang rendah Indeks Glikemiknya, sehingga asupan
gula dalam darahnya tidak tinggi. Kita lihat sekarang banyak produk dipasaran
yang memiliki slogan ‘low calorie’.
Selain serat pangan, pangan fungsional yang lain adalah berbasis
kepada antioksidan. Antioksidan merupakan suatu zat yang mampu melindungi atau
mencegah pembentukan radikal bebas. Antioksidan biasanya diberikan dalam suatu
produk pangan sebagai fortifikasi tetapi ada juga bahan pangan yang telah
memiliki zat antioksidan secara alami.
Bpom
RI Nomor Hk.03.1.23.11.11.09909 Tahun 2011 Pengawasan Klaim Dalam Label Dan
Iklan Pangan Olahan
American
Association of Cereal Chemist/AACC (2001) American Association of Cereal
Chemist (AACC). 2001. The Definition of. Dietary Fiber. Cereal Food
Antioxidant
Basu, TK. 1999. Potential role of antioxidants vitamin. In Antioxidants in
Human Health and Disease. CABI Publishing.
FOTO : http://image.shutterstock.com/display_pic_with_logo/885902/311416577/stock-vector-logos-with-vegetarian-and-useful-meal-raw-food-diet-healthy-lifestyle-and-proper-nutrition-311416577.jpg
Tulisan ini merupakan karya tulis pendek dalam tugas melamar suatu perusahaan media di bidang pangan. Bogor, 20 Agustus 2016