Para koruptor satu demi satu digiring ke meja hijau. Bilangannya terus saja bertambah. Kapan habisnya ya? Ada rencana, para koruptor itu bakal dijatuhi hukuman mati, wallahu a'lam kapan realisasinya. Alasannya, para koruptor tak hanya membuat susah satu atau dua orang manusia, namun ia bisa saja menyusahkan orang seluruh negara.
Materi dan harta dunia memang sangat menggoda. Sedikit orang yang bisa lolos ketika harus berhubungan dengannya. Ya, seringkali ketika orang masih miskin, kere, gak punya apa-apa dengan mudahnya berkomentar 'ah, apalah artinya dunia'. Atau ngomentari mereka yang keblebeg (tenggelam) dalam kemewahan "Orang itu gak sadar kalau hartanya itu hanya ujian." Itu saat masih gak punya apa-apa. Namun giliran dapat kesempatan, duduk di tempat basah dan posisi bagus ternyata ia jadi lupa daratan. Korupsi pun dipilih. Tak sadar kalau banyak orang miskin yang jadi lebih sengsara karena perbuatannya.

Sebenarnya, ajaran Islam telah melatih penganutnya agar menghindari korupsi. Salah satunya, ibadah puasa yang sekarang lagi kita jalani. Meski tak ada orang yang melihat sekalipun, kita dilatih untuk tidak mengorupsi waktunya. Kalau waktu buka puasa belum datang kita tetap siap menahan lapar. Kita tak berpikir untuk memutar jam dinding, arloji atau jam di hp agar lebih segera berbuka. Kita juga tidak nekat sembunyi-sembuyi makan di dalam kamar karena alasan kelaparan. Itu semua kan jadi latihan penting bagi kita untuk terus berlaku jujur dan amanah. Meski tak ada yang melihat, kita tak mengambil yang bukan jatah kita. Orang puasa itu antikorupsi. Allahu akbar, Allahu akbar.. Alhamdulillah, waktu buka sudah tiba!

(elfata-online)