Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam dan sejahtera!!
Maaf, tulisan ini memang ditujukan untuk mengganggu teman- teman dan adik- adikku (yang membaca) yang sekarang sedang berjuang dalam medan pertempuran menghadapi tekanan batin, kecemasan dalam hati, kegalauan pikiran, dan tentunya kebimbangan dalam hidupnya.
Bisa ditanya kepada diri masing masing, “Mau dibawa kemana diri ini setelah lulus?” Kuliah? Sekolah (lagi) (termasuk les, les lagi, lagi lagi les)? Bekerja membantu ayah? Ataaaau Menikah ;)?”
Hal itu yang hampir setahun lalu kami alami, kami rasakan, kami bimbang, kami galauu, termasuk saya yang tak luput dari problematika musiman ini. Oke, untuk mempersingkatnya, saya akan berbagi pengalaman lalu. Sitik wae yo, DAB!
Perjalanan akhir di SMA ini juga tidak saya lalui dengan semanis gula. Cerita dimulai dari sejak kelas 3 semester 1, berangkat dari kelas 2 dengan nilai pas- pasan, saya awalnya bercita- cita masuk STEI atau FTI atau FTSL ITB, “saben ono kakak kelas dari WIKA presentasi, saya sangat antusias, nganti tak lem2 jaluk dongone”. Antusias saya luntur ketika memperoleh nilai buruk di semester 5 (entah karena apa, mungkin karena kelemahan saya yang sering tidak teliti pada fisika-kimia-matematika), hingga membuat diri ini menjadi peserta siswa yang ikut tambahan mapel UN. Nasiiib memang, tapi itu demi perbaikan juga. Tapi ada lho, teman saya yang dulu ikut tambahan UN, sebangku dengan saya, sekarang di kuliah STEI ITB, colek Andre Aditya Pratama, sangat misterius !
Dulu hampir dua bulan saya terkatung- katung bingung karena tak punya cita- cita, arah saya waktu itu hanya lulus UN dengan nilai yang baik. Ketika itu adanya sistem undangan pada SNMPTN semakin membuat leher saya tercekik, bayangkan saja, sistem menentukan 50% rangking tertinggi di kelas mendapat undangan, tapi saya di posisi 30an dari 38 siswa. Nyeseek tenan, “wedi nek konco2 cedak e entuk kuliah kabeh, ning aku durung, terus piyee?” Dan pada saat itu memang banyak teman dekat saya yang menerima undangan SNMPTN, tapi saya hanya mendapat undangan kajian lewat SMS. Alhamdulillah sesuatu
 Beranjak waktu kemudian, UN saya lewati dengan lancar, alhamdulillah waktu itu, karena di minggu sebelumnya di EPL Liverpool juga lancar mengandaskan MU, 3-1. Alhamdulillah sesuatu juga. Opo hubungane?  Menjelang sebulan sebelum SNMPTN Tulis, amunisi- amunisi saya belum siap semua. Ilmu masih kurang, latihan soal kurang, tryout hasilnya kurang, tapi satu yang selalu saya jaga porsinya (jangan sampai kurang), yaitu berdoa kepada Allah SWT.
Perjalanan menjelang SNMPTN ini juga tidak saya lalui dengan semanis madu. Sering hasil tryout saya diberi keterangan KMF ‘keep moving forward’ (ga mencapai semua pilihan), dan di rangking tengah2 -kebawah dikit. Pada waktu itu juga, saya masih bingung dengan pilihan jurusan saya. Orang tua saya menghendaki dokter, jadi cita- cita ke ITB, UI, IPB tenggelam, selain tidak direstui karena jauh, hasil tryout yang tak pernah sampai ke PIG fakultas2 ITB menjadi masalah utamanya. Padahal PIG kedokteran (kedokteran UGM) juga tak pernah saya capai. Namun, karena ini demi masa depan saya dan saran orang tua yang tak kuasa saya tolak, saya berusaha mengejar kedokteran. Dengan segala usaha, banyak latihan soal,  saya berusaha menembus Kedokteran UGM. Bismillah..
Namun, kala itu saya juga bingung menentukan pilihan kedua untuk menjaga peluang lolos SNMPTN 2011. Akhirnya suatu saat saya berpikir, apa tujuan akhir dari orang- orang yang bekerja sebagai dokter, teknisi, politikus, ekonom, dan ahli lainnya, bukankah mereka bekerja demi uang yang akhirnya digunakan untuk makan? Bagaimana kalau tanpa profesi yang ‘besar’ di atas kita masih dapat makan (orientasi: bekerja-uang-makan-bekerja)? Ya, teknologi pangan menurut saya waktu itu pilihan yang tepat.
Setelah itu saya konsultasikan ke orang tua, teman2, pak Karno SSC, dan tentunya Allah SWT. Orang tua setuju, teman2 setuju (iyolah, harus), pak Karno SSC sangat setuju malah beliau berkata: “Wah bagus ini, lulus dari teknologi pangan anda bisa buat pabrik pakan ternak. Jadi pengusaha, kalau usaha di bidang pangan itu plusnya produk cepat habis/mengalir terus; bahan baku tersedia terus, beliau mencontohkan sistem Unxlever (yang sekarang menurut saya menjadi MNC kelas sampo)”  Okee sementara manteb, pilihan kedua saya, TPHP UGM, tapi masih ada gundah di hati, karena jurusan ini tidak populer dibandingkan pilihan-pilihan saya sebelumnya (Kedokteran UGM, STEI, FTSL ITB, STAN dll). Bimbang terus, salat istikharah terus saya jalani, hingga akhirnya waktu hari pendaftaran, pilihan 1nya tetap Kedokteran UGM; pilihan keduanya masih bimbang, butuh waktu hampir 1 jam bagi saya untuk menegaskan tetap memilih TPHP UGM. Akhirnya klik, bismillah... daftar.
Singkat cerita, hari H SNMPTN, saya di tempatkan di SMA Warga, dua hari SNMPTN, dua hari bareng Ayub Qolbani- M. S. Zuhri, dua hari bertemu Farid Masykur, Kautsar Abiyoga, Aland Dewayasa, dan dua hari yang menentukan. Singkat cerita lagi, alhamdulillah dengan segala rahmat Allah SWT saya diterima di jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada. Waktu itu semua saling sms menanyakan diterima dimana dimana, banyak yang ITB, banyak yang teknik2, kedokteran, di pilihan 1 waaaah saya hanya TPHP UGM (atau kena di pilihan 2). Tetapi, meski tidak sepopuler, tidak sekeren jurusan- jurusan favorit di atas, saya meski harus bersyukur dan menerima jalan yang diberikan Allah kepada saya, karena....
    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia sangat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia sangat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al Baqarah: 216)
Potongan ayat Alquran di atas datang dari salah seorang teman. Ya, itu sangat benar dan akhirnya benar- benar memantabkan hati saya.
Adik- adikku, Ini ceritaku, kutunggu ceritamu... Semangka ! Semoga sukses pada pilihan hidupnya masing- masing!
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
                Salam, bersulang dengan Pinot Noir,
Bang Onne
Penulis amatir ini merupakan mahasiswa Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada 2011, yang lulus dari X6 (era kepinteran), XI IPA2 (jaman pekokan), dan XII IPA2 (masa agak pinter) SMA Negeri 1 Surakarta, mempunyai motto’ keep moving forward’, mempunyai cita- cita memajukan bangsa ini melalui sektor terbesar yang dimilikinya, yaitu sektor agro hingga kembali menjadi negara agraria hakiki, sejati, dan sejahtera dari petani hingga presidennya (amin).




Sumber gambar : http://cdn4.benzinga.com/files/imagecache/1024x768xUP/images/story/2012/shutterstock_126653108.jpg